Walid Siap Berkompetisi Calon Ketua DPC Demokrat


Wakil Ketua I DPC Partai Demokrat Kota Bima, Khalid H Tahar

Kota Bima (NTB)—Musyawara Cabang (Muscab) Parta Demokrat Kota Bima, rencananya akan dihelat tanggal 8 – 9 Juli 2011 nanti. Lewat Muscab nanti, tentunya sejumlah kader yang sudah nampak siap tampil sebagai figur kuat memimpin Partai Demokrat kota Bima kedepan.

Kandidat kuat ini tiada lain Khalid H Tahar—yang saat ini juga menjabat sebagai wakil ketua I partai Demokrat Kota Bima. Khalid sapaan Walid—adalah salah satu kader yang tak pernah pantang mundur dalam membesarkan nama partai berlambang ‘Mercedes Bens’ itu. Kendati saat ini Demokrat dihadang segudang isu politik, namun Walid tetap tegar menghadapinya sehingga nama partai Demokrat di kota Bima langgeng menuju pentas demokrasi 2014 mendatang.

Bicara tampilnya sebagai kandidat pada Muscab nanti—Walid telah mendapat dukungan 4 dari 5 PAC yang ada di kota Bima—yakni PAC kecamatan Mpunda, Asakota, Rasana’e Barat dan Raba. Empat pimpinan PAC tersebut telah komitmen serta memberikan pernyataan sikap mendukung Walid pada Muscab nanti. “Kita telah memberikan pernyataan mendukung bang Walid menuju Muscab,” ujar ketua PAC Demokrat kecamatan Mpunda M Fajrul Islam dalam jumpa pers, Sabtu (2/7/2011) kemarin.

Diakui Fajrul, dalam Muscab partai Demokrat, tentu ada mekanisme yang harus dilalui seperti yang diatur dalam AD/ART partai Demokrat. “Jadi kita harus mengikuti mekanisme dan aturan main,” katanya.

Namun, kata dia, jika dari 5 PAC dan 4 lainnya mendukung salah satu kandidat—tentu yang dilakukan adalah aklamasi untuk 1 calon, atau dukungan pengusung 50+1.

Menjawab pertayaan apakah ada kandidat lain selain Walid? Kata Fajrul, menurut informasi H Qurais juga akan tampil. Namun yang sudah resmi mendaftar di secretariat adalah Walid. Karena dia (Walid), disamping kader partai, juga memiliki KTA resmi dari partai. “Ini salah satu persyaratan bagi siapapun yang ikut tampil sebagai calon pemimpin partai Demokrat,” jelasnya.

Kalau H Qurais, lanjut Fajrul, kabarnya beliau sudah memegang mandat dari Partai Gerindra, dan sebelumnya juga pernah ikut dalam kontes Musda Golkar—tapi dikalahkan oleh Hj Fera. “Jadi menurut saya, H Qurais belum resmi ikut calon di Partai Demokrat,” katanya.

Sementara itu, dalam AD/ART Partai Demokrat seperti dalam pasal 27 menyatakan, ada12 persyaratan bagi calon ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) partai Demokrat. Diantaranya—disamping memiliki pemahaman yang kuat dan mampu menyebarkan idiologi partai yaitu nasionalis religius (2)—Calon Ketua—juga dari kader Partai Demokrat yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Anggota KTA (point 12). Begitupun dalam pemberian suara pada Muscab nanti hanya satu hak suara saja, yakni dari unsur DPP, DPD, DPC dan PAC.

Calon Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) partai Demokrat kota Bima Khalid H Tahar kepada wartawan dikediamannya, dirinya siap berkompetisi dalam pencalonan nanti. Karena Demokrat adalah partai yang terbuka. “Dan jika 5 PAC nanti mendukung, saya siap membawa nama Partai Demokrat kearah yang lebihbaik lagi dengan program Demokrat Pro Rakyat,” ujarnya.(Yadin-MEDIA NUSANTARA)

Iklan

Diduga Pelaku Pembunuhan Brigader Rochmat dari Jaringan JAT


Bima (NTB)—Setelah menggrebek rumah Sa’ban A Rahman—satuan khusus polisi Polres kabupaten Bima kembali meringkus Arifin (26), warga kampung Sigi, desa Rato kecamatan Bolo, Bima – NTB.  Penangkapan Arifin karena diduga kuat keterkaitan kematian Brigader Rochmat yang dibunuh di saat bertugas (piket) di kantor Polsek Bolo, Kamis (30/6/2011) dini hari kemarin.

            Arifin yang merupakan kakak ipar pelaku, diringkus polisi di keramaian pasar Sila. Tidak ada perlawanan saat diringkus, sehingga Arifin mulus dibawa ke Mapolres Bima.

            Berbagai sumber informasi menduga, Arifin merupakan salah satu guru yang membina Sa’ban di Ponpes Umar Bin Khatab, desa Sanolo kecamatan Bolo. Sehingga kuat dugaan Arifin sebagai salah satu pihak yang men-skenario pembunuhan terhadap Brigader Rochmat, pria kelahiran Mojokerto itu.

            Selain Arifin—Rohayu (istri Arifin) juga telah diamankan polisi—termasuk kedua orang tua pelaku. Mereka diamankan polisi untuk dimintai keterangan demi membantu kelancaran penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut.

            Sementara menurut sumber di kepolisian menyebutkan, pemeriksaan diantara keluarga pelaku masih berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Seperti keterangan dari Rohayu yang masih menutupi kegiatan saudaranya itu (Sa’ban). Sedangkan keterangan dari ayah pelaku sendiri, mengarah semua aktifitas pelaku hingga melakukan aksi pembunuhan terhadap brigader Rochmat. “Sedangkan keterangan Arifin, dinilai masih menyembunyikan segala aktifitas pelaku,” kata sumber di kepolisian itu.

Informasi terakhir yang diendus MN, pimpinan pondok pesanter Umar bin Khatab—Abrory—dalam pencarian polisi. Kuat dugaan, ponpes yang dipimpinnya itu masuk dalam jaringan Jamaah Ansharu Tauhid (JAT) dibawa binaan Abubakar Ba’syir. Namun hingga kini polisi belum mennampakan tindakan untuk menggrebek ponpes Umar bin Khatab tempat Sa’ban dibina.

Berbagai kalangan masyarakat menilai, Kapolres kabupaten Bima lamban mengambil tindakan sehingga ruang gerak jaringan JAT yang beroperasi di wilayah kecamatan Bolo dan sekitarnya berjalan mulus. Padahal sebelumnya, polisi sudah mengetahui adanya aktifitas maupun kegiatan latihan di ponpes itu. Latihan tersebut dicurigai sebagai bentuk kesiapan jaringan itu untuk memuluskan rencana yang melanggar hukum. “Kita sudah tahu adanya aktifitas latihan di Ponpes itu, dan hasil intaian selama beberapa bulan terakhir, kita terus laporkan keatas,” ujar Kapolsek Bolo Kapten Maulana J Karepesian, pasca kejadian.(Yadin-MEDIA NUSANTARA)

Seorang Polisi Dibunuh di Kantor Polisi


Kantor Polsek Bolo, kabupaten Bima-NTB. Di tempat inilah Brigader Rochmat dibunuh oleh seorang santri Ponpes Umar Bin Khatab, desa Sanolo kecamatan Bolo, Bima-NTB. (foto:MN)t

Bima (NTB)—Brigader Rochmat, salah satu anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Bolo kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dibunuh dengan sadis oleh seorang pemuda bernama Sa’ban A Bakar (17), warga RT11, kampung Sigi desa Rato kecamatan Bolo. Kejadian itu diperkirakan pukul 03.30 Wita, Kamis (30/6/2011 dini hari, saat Brigader Rochmat menjalankan tugas (piket) di kantornya.
Kapolsek Bolo Kapten Maulana J Karepesina mengatakan, kejadian sepintas itu diperkirakan pukul 03.30 Wita, Kamis (30/6/2011) dini hari, saat Brigader Rochmat menjalankan tugas (piket). ”Malam itu pelaku datang untuk memberikan laporan dan diterima dengan baik oleh petugas piket. Namun tiba-tiba pelaku bertindak sadis sehingga Bigader Rochmat tewas,” ujarnya kepada wartawan, Kamis pagi.
Kuat dugaan, pembunuhan ini sudah direncanakan. Namun kita masih menyelidiki dugaan keterlibatan salah satu ponpes yang ada di Bolo. ”Karena pelaku ini dibina di salah satu Ponpes itu. Jadi kuat dugaan masuk dalam jaringan teroris,” katanya.
Maulana tak menyebutkan naman Ponpes dimaksud. Namun kuat dugaan salah satu ponpes tersebut yakni Ponpes Umar Bin Khatab bertempat di desa Sanolo, kecamatan Bolo.
Selama beberapa bulan terakhir, kegiatan di Ponpes dimaksud tetap dipantau polisi, termasuk kegiatan latihan yang kerap terjadi tengah malam. ”Selama ini kita terus pantau, dan hasilnya kita laporkan ke pusat,” ujarnya.
Saat ini, polisi telah mengamankan pelaku pembunuhan beserta barang bukti sejenis belati yang digunakan pelaku. Sedangkan BB lainnya yang ditemukan dikediaman pelaku, seperti buku-buku jihat, kaset, paku, busur panah dan parang jenis samurai—juga telah disita. ”Sejumlah BB ini kita temukan dibawa kolom tempat tidur (divan) milik pelaku,” jelas Maulana.
Sementara informasi di TKP yang dihimpun MN menyebutkan, selain Brigader Rochmat—tiga orang anggota polisi rekan piket pada malam kejadian yaitu Brigader Rusdin, Briptu Agusalim dan Briptu Sukardin.
Sebelum kejadian, brigader Rusdin berada di ruang polsek—briptu Agusalim di ruangan intel—dan briptu Sukardi di ruangan patroli. Kejadian baru diketahui setelah mendengar teriakan brigader Rochmat yang saat itu sudah terkapar tewas.
Sebelum pelaku diringkus, sempat terjadi perlawanan 1 lawan 3—hingga pelaku pun berhasil dirobohkan.
Sementara brigader Rochmat waktu dini hari itu, sempat dilarikan ke PKM Bolo untuk diberi pertolongan medis. Namun akibat sejumlah luka dan banyak mengeluarkan darah, nyawanya pun tak tertolong.
Belum diketahui kapan Brigader Rochmat dimakamkan. Karena menurut kabar, pihak keluarga di Jawa menginginkan Rochmat dikuburkan di tempat kelahirannya—begitupun sebaliknya.(yadin-MEDIA NUSANTARA)

Lugas & Jurdil

%d blogger menyukai ini: