Editorial

Studi Banding Anggota DPRD

Sepekan terakhir ini, beberapa media massa—lokal dan regional—menyoroti perilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang melakukan perjalanan ke luar daerah. Bilamana produktivitas kerja diukur melalui perbandingan antara output yang dihasilkan dengan input yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi tersebut, memang perlawatan ke daerah lain itu patut dipersoalkan.

Sementara hasil kunjungan belum dapat dilihat nyata, biaya yang dikeluarkan memang mudah diketahui semua kalangan. Kunjungan ke luar daerah para wakil rakyat yang terhormat, menjadi masalah ketika disebut sebagai “studi banding”. Banyak pihak merasa heran bila suatu “studi” hanya berlangsung sekitar 4 – 5 hari.

Meskipun sekadar untuk mencari bahan perbandingan—Para peneliti saja memerlukan waktu sekitar dua sampai empat minggu untuk melakukan “studi banding” ke daerah lain dengan tujuan melengkapi laporan hasil penelitiannya. Bila waktu yang diperlukan hanya sependek yang dilakukan anggota DPRD, dalam hitungan jari pada satu tangan memang kurang tepat kalau disebut sebagai “studi banding”.

Yang dilakukan oleh anggota DPRD tersebut apa memang semata-mata “kunjungan kerja” atau suatu “studi banding”?.

Mungkin jika ada penjelasan “kunjungan kerja”—ini lebih memadai dari sekadar mempertahankan diri atas perjalanan keluar daerah yang sering dilakukan para wakil rakyat tersebut. Tujuan utama suatu “kunjungan kerja”—sebenarnya untuk mendapatkan data dan melihat sendiri kenyataan yang terjadi dalam masyarakat.

Sebagai seorang wakil rakyat, memang merupakan keharusan untuk melihat dan mengetahui keadaan masyarakat yang diwakilinya. Dengan begitu, dapat membuat perbandingan antara apa yang sering diberitakan tersebut dengan keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Tugas untuk membuat Peraturan Daerah (Perda), memang merupakan kewajiban setiap wakil rakyat yang terhormat di daerah.

Misalkan—pembuatan sebuah naskah akademik yang menjadi bahan rujukan bagi setiap rancangan peraturan daerah, sudah pasti tidak dilakukan para wakil rakyat itu sendiri. Melainkan selalu ada tim yang bertanggung jawab untuk menulis sebuah naskah akademik dimaksud. Sesuai dengan judul bahan, naskah akademis harus merupakan pemikiran dengan latar belakang akademis.

Pada umumnya, naskah dimaksud dari suatu rancangan Perda disusun oleh kelompok ahli yang berasal dari kalangan perguruan tinggi. Penyusunan naskah tersebut memerlukan suatu “studi banding”, sehingga kegiatan ”studi banding” ke luar daerah dengan tujuan mendapatkan bahan bagi penyusunan suatu rancangan Perda, seharusnya dilakukan Tim Penyusun Naskah Akademis dan bukan oleh para wakil rakyat.

Para ahli tersebut yang perlu menyisihkan waktu, membaca berbagai rujukan, dan menyusun bahan yang sekualitas disertasi mahasiswa pascasarjana. Naskah akademis ini yang akan menjadi pegangan dan rujukan setiap Perda yang diterbitkan dan merupakan kewenangan serta tanggung jawab anggota DPRD. Pemaknaan istilah “studi banding” untuk kegiatan kunjungan ke luar daerah sebaiknya segera diluruskan.

Perlu juga dilakukan perbaikan dan penyesuaian dalam pengajuan suatu anggaran. Upaya ini perlu dilakukan bila para wakil rakyat tidak ingin mendapat hujan kritikan lagi dari kalangan masyarakat. Bila para anggota DPRD dapat menempatkan diri sesuai kehormatan yang mereka peroleh.

Benar-benar menjadi wakil atas kepentingan dan keinginan rakyat ketika berhadapan dengan pihak eksekutif, penguasa birokrasi pemerintahan. Entah kapan harapan mulia semacam ini bisa terwujudkan dalam panggung politik yang dikuasai anggota Parlemen saat ini.(yadin)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: