you're reading...
Headline

Penembakan Bripka M Yamin Terencana!


a3Bima (NTB)—Belum lama terungkapnya kasus penembakan terhadap seorang anggota polisi dari satuan Polresta Bima Kota—kini penembakan serupa terjadi pada anggota Kepolisian Polres Kabupaten Bima. Kasus penembakan tersebut merupakan kali kedua setelah terjadi di Doro Belo, beberapa bulan lalu.
Bripka Muhammad Yamin yang bertugas sebagai Kanit Intel Reskrim Polres Kabupaten Bima-NTB, tewas ditembak oleh dua orang tak dikenal. Peristiwa yang menghebohkan masyarakat kecamatan Bolo ini, terjadi sekira pukul 21.45 WITA, di jalan lintas Sumbawa desa Rasabou kecamatan Bolo, kabupaten Bima, Senin (2/6/2014) malam.
Penembakan itu, juga membuat warga masyarakat desa Rasabou khususnya, sangat resah karena tempat kejadian perkara terjadi di Rasabou.
Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi penembakan itu terjadi? Berikut catatan Tim MN berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber.
Waktu terus berlalu. Malam itu begitu hening seakan aktivitas di jalan raya nasional tersebut sepi melintas. Namun sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP), Bripka M Yamin sempat duduk dan berbincang-bincang dengan beberapa warga di suatu tempat tak jauh dari TKP. Yang dibicarakan itu pun adalah persoalan kehilangan dompet milik seorang warga setempat. Hingga hal itupun diketahui si pengambilnya lantaran terekam kamera CCTV.
Jarum jam pun menunjukan sekira pukul 21.14 waktu setempat—M Yamin tiba-tiba mendapat SMS, entah itu dari siapa sehingga ia beranjak dari tempat duduk, kemudian menuju ke timur mengikuti arah jalan lintas sumbawa menggunakan sepeda motor jenis MIO warna putih nopol EA 3594 SZ.
Entah SMS dengan siapa, M Yamin terlihat sibuk dengan memencet tombol ciper HPnya sekitar kantor Pegadaian Pasar Sila. Mendekati lokasi kejadian, dua sepeda motor cukup terlihat laju santai dengan arah bersamaan dari timur. Di sekitar TKP pun, ada beberapa warga yang kebetulan masih duduk (mangkal) meski dalam suasana lengah. Terlihat masing-masing pengendara sepeda motor tersebut, saling berbincang-bincang sambil melaju santai.
“Namun satu dari sepeda motor itu, diboncengi oleh dua orang. Pembonceng tidak memakai helm, tetapi yang dibelakang menggunakan helm,” kata sumber berinisial N yang melihat langsung peristiwa tersebut.
Kemudian, pada saat bersamaan tepatnya di TKP, seorang dari mereka (yang dibonceng), tiba-tiba mengarahkan pistol dan menembak ke seorang pengendara sepeda motor yang saat itu berada pada posisi samping kiri pelaku. Tembakan tersebut hingga korban jatuh terkapar. Lalu, pengendara yang menggunakan sepeda motor jenis Yamaha Jupiter berwarna merah tersebut, berhenti dan memutar balik arah sepeda motor mereka. Dan, saat itu pula, aksi tembakan beberapa kali, kembali terjadi kearah korban yang sudah terkapar di jalan raya.
“Setelah itu, mereka langsung meninggalkan korban dan melaju sepeda motor dengan santai. Sedangkang seorang dibelakangnya terlihat menaruh sejenis pistol disaku jaketnya,” kata sumber itu dengan wajah trauma.
Pada menit-menit kemudian, beberapa warga sekitar TKP yang mendengar letupan senjata, keluar dan melihat ada seseorang terkapar dan berdarah di jalan raya. Setelah diketahui korban adalah M Yamin (anggota polisi), warga pun melarikan ke Puskesmas Bolo—dan lainnya melaporkan ke Mapolsek setempat terkait peristiwa penembakan itu.
Sumber warga lain yang mendengar suara letupan menyebutkan, tembakan itu terjadi sebanyak lima kali meski ada selang waktu beberapa detik. Dan, tembakan terakhir terjadi secara berturut-turut. Namun, warga yang sempat mendengar letupan tersebut, sebagian menganggap suara knalpot sepeda motor, petasan dan lainnya menduga ada penggerebekan. Tetapi setelah diketahui—korban adalah Bripka M Yamin—yang merupakan putra kelahiran desa Leu meninggal karena dibrondong peluru.
Sementara, penembakan Bripka M Yamin pada malam itu, ada yang menduga terencana dengan rapi. Karena setiap gerak gerik korban, kerap diintai dan dincar selama beberapa pekan terakhir. Hal ini diperkuat adanya curhat korban sendiri kepada beberapa warga, dua hari sebelum peristiwa penembakan.
Kecamatan Bolo dan Madapangga merupakan wilayah yang menjadi pantauannya. Banyak hal yang terjadi sebelum dirinya ditembak. Seperti dugaan penanganan penyelundupan minyak tanah, pencurian sepeda motor, penggunaan obat terlarang, perkelahian, peredaran minuman keras (miras), bahkan kasus-kasus perjudian lainnya yang dianggap meresahkan warga.
Lebih ironis lagi, korban juga kerap melakukan tugas mengintai aktivitas beberapa kelompok warga masyarakat yang dianggap mengancam Kamtibmas di wilayah itu.(adi)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: