you're reading...
Headline

Pertikaian Ngali-Donggo Berimbas Luas di Masyarakat


foto: ilustrasi MNnews

foto: ilustrasi MNnews

MNnews (NTB)—Pertikaian antara mahasiswa asal Ngali dan Donggo Kabupaten Bima di Mataram belum lama ini, rupanya berimbas luas. Pasalnya, sebagian besar mahasiswa warga Dompu, terutama Komunitas Masyarakat Donggo (Komodo) yang menimba ilmu di Mataram, kini mengunsi ke daerah asalnya. Mereka kuatir persoalan itu akan berimbas pada luas hingga menimbulkan masalah etnis dan Sara.
Pada Jum’at (21/6) lalu, puluhan mahasiswa Mataram asal Dompu mendatangi pihak Pemkab setempat untuk menyapaikan persoalan yang sebenarnya, dan mereka meminta perlindungan guna menghindari timbulnya persoalan yang lebih luas. Rupanya saat ini, para mahasiswa itu enggan kembali menjalani aktifitas kuliah pasca kerusuhan berdarah yang menimbulkan satu orang korban jiwa.
Puluhan mahasiswa yang ditemani Joyo, salah seorang aktifis mengharapkan, agar Pemkab Dompu segera turun tangan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Misalnya mempertemukan mereka yang tergabung dalam Rukun Keluarga Dompu (RKD) dan Himpunan Pemudan dan Mahasiswa Dompu (HPMD) di Mataram.
Sebab, bila hal itu tidak segera ditangani, dikuatirkan akan berimbas pada nasib mahasiswa asal Dompu yang sejauh ini tidak berani kembali menjalani aktifitas perkuliahan. “Diperkirakan ratusan mahasiswa asal Dompu saat ini belum berani kembali ke Mataram,” jelas Yamin salah seorang mahasiswa yang saat itu memimpin rekan-rekannya.
Sementara itu, kehadiran Yamin Cs saat itu hanya ditemui oleh Asisten Tata Pemerintahan Setda Drs H Agani di ruang kerjanya. Mereka yang hendak temui Bupati, Wabup dan Sekda pada saat itu, tidak berada di tempat. Namun Agani berjanji akan menyampaikan aspirasi mahasiswa Dompu setelah Bupati selesai melaksanakan ibadah umroh di tanah suci Mekah.
Sementara itu, solidaritas mahasiswa tersebut juga didukung salah seorang anggota DPRD Dompu Ilham Yahyu S.Pd. Ia menyarankan agar Pemkab Dompu menyelesakan persoalan tersebut sebelum meluas dalam waktu 3×24 jam. “Segera bentuk tim untuk berangkat ke Mataram guna sesegara mungkin menyelesaikan persoalan,” tegasnya.
Pada 27 Juni 2013 kemarin, aksi protes itu pun meluas di tengah-tengah masyarakat. Aksi pemeriksaan KTP pun terjadi di pertigaan sekitar obyek wisata Madaparama, Dompu.
Pemeriksaan KTP itu sekira pukul 23.30 Wita malam. Di TKP, mereka mencari asal warga yang menjadi ‘obyek’ pertikaian. Sementara di desa O’o, terjadi blokde jalan Nasional. Akibatnya, arus transportasi lumpuh beberapa jam. Namun setelah dilakukan negosiasi oleh pihak aparat Kepolisian, TNI dan Pemerintah setempat, blokade akhirnya dibuka. Bus-bus antar pulau maupun kendaraan lainnya, baru bisa jalan sekira pukul 23.55 Wita.
Sementara beberapa warga O’o yang sempat ditemui MN malam itu, sangat menyayangkan adanya informasi bahwa persoalan di Mataram akan berimbas pada seluruh mahasiswa Dompu. “Hal inilah yang membuat kami turun tangan,” kata mereka disela-sela kemacetan panjang, di desa O’o, kemarin.(A Rifaid)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: