you're reading...
Headline

Mahlan Diduga Dibunuh, Tim Forensik Otopsi Jasad Korban


Ini proses penggalian makam korban yang meninggal tanggal 17 Februaru 2013. Beberapa warga Kampung Sigi desa Rato kecamatan Bolo-Bima-NTB, membantu penggalian hingga mengangkat jenazah dari liang kubur untuk diotopsi, Senin (4/3/2013) pagi.(foto:bop)

Ini proses penggalian makam korban yang meninggal tanggal 17 Februari 2013. Beberapa warga Kampung Sigi desa Rato kecamatan Bolo-Bima-NTB, membantu penggalian hingga mengangkat jasad dari liang kubur untuk diotopsi, Senin (4/3/2013) pagi.(foto:bop)

Mnnews (Bima-NTB)—Kepolisian Polres Kabupaten Bima akhirnya melaksanakan permintaan keluarga Mahlan H Mansyur S.Sos, korban yang diduga meninggal tidak wajar dirumahnya pada tanggal 17 Februari 2013 lalu. Permintaan itu agar jasad Mahlan untuk diotopsi meski sudah 14 hari dimakamkan.
Proses penggalian makam korban, akhirnya dilakukan sekira pukul 08.15 WITA, Senin (4/3/2013) pagi tadi. Tim Forensik Polda Denpasar – Bali, juga dihadirkan untuk melakukan kegiatan otopsi.
Sebelumnya, korban dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Sigi, desa Rato kecamatan Bolo-kabupaten Bima-NTB, sehari setelah disemayamkan dirumah duka.
Rumor yang berkembang pasca itu, korban meninggal diduga gantung diri. Kemudian dua hari setelah dimakamkan, issu itupun mencuat dari pihak keluarga bahwa kematian Mahlan diduga dibunuh.
Dugaan itu juga diperkuat dari pernyataan Muhammad Amin STMN. Menurut dia, adanya upaya otopsi tersebut setelah mendapat informasi dari kakaknya bernama Nuraini, yang saat itu melihat dan mencurigai ada ceceran darah pada dua sarung bantal, tempat tidur korban. “Bahkan bekas ceceran darah tersebut terlihat banyak pada dua lembar sarung batal hingga meresap kedalam kapas. Temuan inipun saat dilakukan pembersihan kamar korban pada malam hari—setelah proses pemakaman,” ujar Amin kepada wartawan disela-sela proses penggalian itu.
Amin juga mengatakan, menyusul adanya demikian, pihaknya langsung mendatangi Dr Yulian yang pernah memeriksa kondisi tubuh korban di UGD PKM Bolo saat itu. Bahkan menurut Yulian, kutip Amin, “korban meninggal bukan gantung diri, tetapi digantung setelah meninggal”.
“Pernyataan Dr Yulian akhirnya memperkuat dugaan kami selaku saudara kandung korban. Bahkan tiga orang ponakkan kami diberikan penjelasan kematian bapak mereka. Setelah itupun, kami mendatangi pihak Kepolisian dengan meminta agar jasad korban diotopsi,” kata Amin.
Keluarga korban juga berharap, dilakukan otopsi tersebut semata-mata untuk mencari tahu kebenaran sekaligus menghindari munculnya fitnah yang kerap terjadi setiap saat. “Apapun hasilnya nanti, keluarga tetap menerima. Dan, kalaupun ada tanda-tanda kekerasan, kamipun menyerahkan sepenuhnya ke pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas,” jelas Amin yang merupakan adik bungsu korban dari 11 saudara itu.
Pantauan langsung MNnews di TKP—kegiatan otopsi itu juga mendapat pengawalan ketat dari Kepolisian Polres Kabupaten Bima. Kapolres Bima AKBP Deden Alamsyah didampingi Kapolsek Bolo AKP Burhanuddin, beberapa anggota Koramil Bolo, Muspika dan ratusan warga lainnya, juga turut menyaksikan proses penggalian makam korban.(adi)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: