you're reading...
Hukum

Petugas di RSUD Persiapan Sondosia Saling Lempar Tangggung Jawab!


Pasien JAMKESMAS Meninggal

Kondisi RSUD Persiapan kabupaten Bima-NTB saat ini. (foto:bop)

Kondisi RSUD Persiapan kabupaten Bima-NTB saat ini. (foto:bop)

“Menyusul meninggalnya seorang pasien yang mengalami penyakit Asmah yang datang rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Persiapan Sondosia, Selasa (5/2) kemarin, beberapa pejabat yang memilik tugas dan kewenangan di RS tersebut saling klaim dan lempar tanggung jawab. Lantas, jaminan kesehatan seperti apa yang diperoleh ketika pasien melakukan rawat inap di Rumah Sakit Persiapan itu?”

MNnews (NTB)—Pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Persiapan di desa Sondosia kecamatan Bolo, kabupaten Bima-NTB, kerap mendapat keluhan masyarakat terutama dari pihak keluarga pasien itu sendiri.
Salah satu komplain itu muncul menyusul meninggalnya Hamzah (53) warga dusun Lara desa Tambe, kecamatan Bolo. Korban merupakan pasien penyakit Asmah yang datang rawat inap di RS Persiapan, Selasa (5/2/2013) dini hari.
Junaidin, salah satu keluarga korban yang datang di redaksi MN pasca itu, mengaku sangat kecewa terhadap pelayanan di RSUD Persiapan Sondosia. Pasalnya, kebutuhan jenis obat generik yang semestianya ada, namun sulit didapatkan di rumah sakit tersebut.
“Meski kami telah mendapat resep obat dari dokter yang menangani (dr Yulian,red), namun petugas di apotik RS setempat tidak ada. Akibatnya, nyawa orang tua kami tidak tertolong,” ujar Junaidin dengan nada kecewa.
Junaidin juga mengatakan, persoalan meninggalnya manusia atau mahluk hidup lainnya, memang sudah ditakdirkanNYA. Tapi setidaknya ada upaya dilakukan kita sebelum ajal itu tiba. Seperti memberikan obat sebagai langka pertolongan pasien dalam kondisi kritis.
“Namun, bagaimana kita mendapatkan obat, sementara petugas di apotik itu sendiri tidak ada,” tandas Junaidin.
Sebagai keluarga pasien Jamkesmas, Junaidin mempertanyakan tanggung jawab pihak rumah sakit setempat di dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya lagi pasien yang memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, dr Yulyan Averoos yang menangani pasien tersebut, mengaku telah memberikan resep obat kepada keluarga korban untuk segera mengambil di apotik RS. Jenis obat ini yakni Abroxol tab, salbutamol 2g dan paracetamol tab pada lembaran Jamkesmas.
“Tapi saat itu, obat tersebut tidak bisa diambil karena petugas di apotik RS tidak ada. Hal ini saya baru tahu setelah mendapat informasi dari pihak keluarga korban,” kata Yulyan selaku penanggung jawab pelayanan pasien di RS saat dikonfirmasi wartawan pasca pasien itu meninggal.
Yulyan juga mengatakan, saat pasien itu masuk, pihaknya telah memberikan bantuan oksigen sambil menunggu obat yang diambil dari apotik.
“Dalam prosedur, saya sudah melakukan upaya semaksimal mungkin. Hanya saja resep yang saya kasih kepada keluarga pasien, tidak bisa diambil mengingat petugas apotik di RS tidak ada,” kata Yulyan yang juga kepala UPT Puskesmas Bolo ini.
Pada hari yang sama, Kepala Unit Penanggung Jawab Pelayanan kepegawaian sekaligus PJ KTU RSUD Persiapan Sondosia Amiruddin SKM mengatakan, dirinya tidak tahu adanya pasien yang masuk dan meninggal pada waktu dini hari tadi. “Persoalan ini, yang bertanggung jawab adalah pak dr Yulyan selaku penanggung jawab pelayanan pasien. Saya hanya mengatasi kedisplinan pegawai saja,” kata Amir saat ditemui di RSUD persiapan, setempat.
Disinggung persoalan kedisplinan pegawai terutama petugas di apotik RS setempat, Amir pun mengaku bahwa hal tersebut sudah sekian kalinya menghimbau kepada pegawai di RS ini agar memiliki tanggung jawab moral dalam melaksanakan tugas. “Ini saya lakukan setiap apel pagi,” katanya.
Amir juga belum tahu siapa dua orang pegawai yang mendapat tugas piket di apotik hingga dini hari tadi (Selasa,red). “Saya akan mengecek dulu,” lanjutnya. Dia menambahkan, yang memiliki kewenangan di RS ini ada pada pak dr Ganis selaku koordinator umum di RS Persiapan Sondosia. “Silakan rekan wartawan konfirmasi kepada beliau,” arahnya.
Sementara itu, Koordiniator Umum RSUD Persiapan Sondosia dr Ganis dikonfirmasi koran ini Via HPnya, pagi itu mengatakan, bahwa persoalan petugas di apotik, sudah ada dan selalu standbay mulai pagi sampai malam hari. “Saya di RS setempat hanya mengkoordinir saja,” ujarnya.
Dr Ganis juga beralasan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab yang lebih besar di Puskesmas Woha dari pada di RS Persiapan Sondosia. Sehingga yang bertanggung jawab untuk mengatur pegawai seperti petugas di apotik tersebut, ada pada Sekretaris TU yakni pak Amir. “Jadi saya tidak bisa meninggalkan tugas di Puskesmas Woha ini,” terangnya.
Dia juga menyinggung, sebenarnya—berkaitan persoalan persiapan obat di RS setempat, itu sudah ada petugas obat. Namun selama ini tidak pernah digunakan, karena yang terjadi menggunakan “obat-obatan” sendiri. Akibatnya, banyak petugas yang menganggur.
“Intinya yang mengatur petugas di RS Persiapan ada pada pak Amir, karena abstensinya juga dipegang beliau,” tandas dr Ganis.(adi pradana)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: