you're reading...
Headline

Warga Tolak Aktivitas PT BR dan Lam-Lam


BIMA (NTB)—Penolakkan operasi PT Bunga Raya dan perusahaan air minum CV LAM-LAM di kecamatan Madapangga, terus terjadi. Kali ini sejumlah pemuda dan warga masyarakat yang bergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Rakyat (APMPR) Madapangga, Sabtu (1/9) kemarin, turun kejalan menolak aktivitas kedua perusahaan itu.
Sebelum menuju kantor Camat Madapangga, massa APMPR yang berkonsentrasi menggunakan gerobak benhur melakukan orasi dipertigaan cabang Dena—kemudian mereka konvoi bertolak ke kantor pemerintah kecamatan setempat. Mereka meminta Camat Madapangga agar aktivitas PT Bunga Raya dan CV LAM-LAM dihentikan karena diangap menghabiskan sumber pencaharian masyarakat.
Massa APMPR dibawa koordinator lapangan Wahyudin, meminta Camat Madapangga untuk klarifikasi kembali hadirnya dua perusahaan tersebut, yang dianggap telah ‘merampas’ sumberdaya alam sebagai salah satu sumber pencaharian masyarakat Madapangga.
Seperti dampak yang terjadi akibat pengeboran air air minum kemasan di perusahaan CV Lam-Lam, di desa Ndano. Dimana di beberapa titik sumber mata air sekitar perusahaan tersebut hilang, yang sebelumnya mata air itu mengeluarkan debit air yang cukup besar baik kebutuhan irigasi pertanian maupun lainnya.
Menurut Wahyudin, CV Lam-Lam saat ini dinilai telah mendapat keuntungan yang lebih besar dari hasil sumber mata air Madapangga. Namun konstribusi balik terhadap Madapangga sampai kini tidak ada perkembangan yang berarti bagi pembangunan wilayah Madapangga. Justru dampak yang terjadi mengancam hilangnya sumber mata air di Taman Wisata Alam (TWA) sebagai kebanggaan masyarakat Madapangga sendiri.
Pengeboran juga terjadi tak jauh dari lokasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Sehingga tak heran pusat mata air di TWA tersebut kian hari semakin berkurang yang diduga akibat besarnya debit air yang disedot dalam perusahaan LAM-LAM. Pemerintah Daerah kabupaten Bima diharapkan meninjau kembali izin beroperasinya perusahaan air minum Lam-Lam.
Selain LAM-LAM, perusahaan PT Bunga Raya untuk menghentikan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan lahan masyarakat sekitar sungai di sejumlah wilayah pedesaan di Madapangga. Dampak lain hilangnya sumber pencaharian bagi pemilik gerobak yang mengadu nasib lewat galian C.
Tutuntan mereka juga meminta agar PT Bunga Raya melakukan rehabilitasi kembali lahan masyarakat yang rusak.
Sementara orasi yang disampaikan Gufran, salah satu anggota APMPR menilai, persoalan di Madapangga tidak hanya galian C, namun juga kejelasan pertemuan antara pihak perusahaan yang tidak memberikan hasil titik terang terhadap masyarakat. “Disini, Camat tidak bisa memberikan alasan jelas, melainkan saling melempar kepada kepala desa,” ujarnya.
Sebelumnya, aksi penolakkan serupa juga terjadi beberapa bulan lalu. Tuntutan yang sempat memblokir jalan lintas Sumbawa saat itu, hingga dilakukan oleh oknum yang mengatasnama kelompok masyarakat Rade dan Bolo, Madapangga. Sayangnya, tuntutan oknum itu akhirnya kendor ditengah jalan setelah menerima ‘bingkisan’ dari pihak yang mengaku dari dua perusahaan tersebut.(kamaludin)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: