you're reading...
Headline

Aksi Penolakan Tambang Mulai Berkembang di Madapangga


Aksi bakar ban sebagai bentuk tolak pertambangan di wilayah Madapangga, Bima-NTB.

Bima,MN—Kali kedua—belasan mahasiswa yang bergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Anti Tambang (GEMPAT) kembali melakukan demontrasi di depan kantor Pemerintah Kecamatan Madapangga kabupaten Bima – NTB, Rabu (9/5/2012) sore tadi. Aksi itu menuntut agar pemerintah setempat mencabut SK No.188. Menurut mereka, beroperasinya tambang di Madapangga sangat berdampak terhadap pencemaran lingkungan.
Seperti disampaikan Koordinasi aksi Julkiflih. Dia menegaskan, bahwa beroperasinya pertambangan di wilayah Madapangga hanya menimbulkan kerusakan linkungan dan ekosistim alam terancam hancur—termasuk pencemaran sumber mata air sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk irigasi pertanian. “Termasuk akan munculnya limbah pertambangan,” kata Jul.
GEMPAT juga meminta Camat Madapangga Syamsuddin B.Sc untuk bertanggung jawab akan munculnya persoalan itu. Perbandingannya, menurut mereka, jika rakyat di kecamatan Lambu dan Sape mampu menolak ijin pertambangan dengan tindakan radikal dan tumpah darah, maka masyarakat Madapangga pun siap melakukan hal demikian.
Dalam orasi mereka, ada tiga point yang disampaikan, yakni meminta camat Madapangga untuk memberikan pernyataan sikap menolak segala bentuk pertambangan yang direncanakan di wilayah Madapangga. Kedua, meminta PT Bunga Raya agar segera melakukan reboisasi, rehabilisasi dan revegetasi sesuai dengan UKL dan UPL.
Ketiga, jika tuntutan itu tidak diindahkan, maka akan terjadi pergerakan yang lebih besar terkait adanya “pemaksaan” pengoperasian pertambangan. “Ini bukan ancaman, tapi yang kami harus lakukan karena penguasa yang memaksa kami untuk melakukan tindakan yang berseberangan dengan pemerintah,” tegas korlap GEMPAT dalam orasinya itu.
Di akhir orasinya, Jul mengajak seluruh komponen masyarakat untuk sama-sama melihat kondisi objektif yakni bergabung dalam pergerakan dalam menyatukan pandangan menolak pertambangan.
Sementara dihadapan pendemo, Camat Madapangga Syamsuddin B.Sc mengaku bahwa dirinya hanya perpanjangan tangan dari pemerintah kabupaten (Bupati,red). “Aspirasi ini akan saya sampaikan ke Bupati, namun saya tidak berani membuat keputusan apa yang diinginkan rekan-rekan pendemo,” jelasnya.
Sebelumnya, demo tandingan tiba-tiba muncul disekitar aksi penolakan tersebut. Demo pro itu merupakan kelompok asal warga desa Rade kecamatan Madapangga. Sayangnya, orasi pro tambang tersebut hanya berjalan beberapa menit karena disebakan peralatan sound system yang dipakai mereka rusak.(kamal)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: