you're reading...
Headline

Mentan Akui Hasil Produksi Jagung Hibrida di Dompu


Dompu,MN—Daerah Kabupaten Dompu baru-baru ini didatangi pejabat Menteri Pertanian RI Ir Suswono dalam rangka panen raya jagung hibrida. Selain agenda tersebut, Mentan juga memberikan sumbangan dana bagi beberapa kelompok tani jagung dengan total Rp1 miliar.
Panen raya jagung bertempat di Desa Tolokalo Kecamatan Kempo, Sabtu (21/4) kemarin, juga dihadiri Wakil Gubernur NTB Ir Badrul Munir MM, Bupati Dompu Drs H Bambang M Yasin, sejumlah Bupati dan Wali Kota se-NTB dan pejabat teras lainnya. Anggota DPR RI Dapil NTB dan Dewan Jagung Nasional, turut pula di cara itu.
Di lokasi kunjungannya, Suswono mengaku bangganya atas upaya maksimal Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu bersama masyarakat yang telah mampu mengubah lahan non produktif terlantar menjadi areal pananaman jagung hibrida.
“Produksi jagung hibrida di Kabupaten Dompu ini cukup luar biasa. Bahkan dari laporan Bupati dan Gubernur, produksi jagung dalam tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan signifikan. Saya berharap masyarakat terus mengembangkan varietas yang bisa meningkatkan pendapatan disamping potensi lahan yang tersedia masih cukup banyak,” kata Suswono.
Suswono menghimbau pemerintah daerah segera membangun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang diharapkan bisa membantu petani pasca panen, disamping menjamin kepastian bagi petani serta menjaga kestabilan harga.
Sebab, kata dia, pemerintah pusat telah menyediakan dana Rp20 triliun bagi petani yang tidak memiliki agunan melalui dana KUR senilai maksimal Rp20 juta/orang.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTB mengungkapkan bahwa produksi jagung di Dompu, kini berada pada urutan kedua setelah daerah Sumbawa, dari 10 kabupaten/kota di NTB. Yang membanggakan lagi, katanya, produktifitasnya justeru menempati urutan pertama. “Kondisi ini jauh berbeda dari tahun 2009, dimana Kabupaten Dompu hanya menempati urutan ke-enam sebagai penghasil jagung hibrida di NTB,” katanya.
Bupati Dompu Drs H Bambang M Yasin dalam laporannya, tahun ini pihaknya telah menggenjot perluasan lokasi penanamanan jagung hibrida hingga mencapai luas lahan 31.000 hektare. Untuk di lokasi Desa Tolo Kalo, telah ditanami jagung seluas 3.200 hektare.
Selain itu, dia juga menyinggung kurang tegasnya regulasi di tingkat pusat tentang ketersediaan pupuk bersubsidi. Sebab, pada saat petani membutuhkan pupuk, justeru terjadi kelangkaan. Kendala lain yakni tidak tersedianya mesin penggiling jagung.(rifaid)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: