you're reading...
Headline

Mafia ‘Penggandaan’ SK DPAC Terungkap di Arena Muscab


Dua orang ketua DPAC Kecamatan Madapangga, Arifuddin dan Abakar saling klaim memiliki SK sebagai ketua DPAC yang sah di arena Muscab II Partai Demokrat Kabupaten Bima.

Bima,MN—Munculnya dualisme kepemilikan SK ketua Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Partai Demokrat Kabupaten Bima menjadi pemicu gagalnya pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) II yang berlangsung di RM Lesehan Putri di Kota Bima, Ahad (4/3/2012) kemarin.
Muscab yang rencananya dimulai pukul 13.00 WITA, akhirnya molor tiga jam lebih. Muscab itu gagal berawal terlambatnya kehadiran utusan dari DPD PD Provinsi NTB bersama seorang DPP. Setelah di tempat arena pukul 16.08 Wita, utusan DPD dan DPP itu disambut inturupsi dari DPAC yang meminta agar keberadaan 40 pimpinan anak cabang diverifikasi kembali untuk menghindari konflik internal partai.
Namun pihak panitia selaku yang bertanggung jawab menginginkan agar Muscab dilaksanakan. Namun inturupsi pun terus berkembang hingga berakhir ricuh meski beberapa menit kegiatan tersebut berjalan.
Pasca kejadian, Ketua OKK sekaligus yang bertanggung jawab pelaksanaan Muscab, Ahmad Yani, saat itu belum bisa memberikan tanggapan. Bahkan dia memilih hengkang dari arena Muscab untuk menemui anggota DPD dan DPP Partai Demokrat yang sempat diboyong polisi keluar dari tempat kejadian.
Dalam keterangan pers sembilan DPAC pasca kericuhan itu terjadi, mengaku kecewa terhadap sikap yang dilakukan ketua DPC Partai Demokrat yang tidak hadir dengan beralasan sakit—sehingga DPAC pun menilai ketua DPC PD tidak berani bertanggung jawab menyusul munculnya dualisme SK pimpinan anak cabang.
“Jika berani, kenapa dia (ketua DPC PD,red) tidak hadir di arena Muscab—ini sama saja menciptakan konflik internal partai,” tandas sembilan DPAC dalam keterangan persnya, Minggu malam.
Bahkan kata mereka, undangan Muscab itupun didapat dari mas Arif. Padahal kami yang memiliki SK resmi dari dia (ketua DPC,red) yang telah diverifikasi pada tingkat kecamatan, tidak diberi kabar adanya kegiatan Muscab.
“Kami pun mendapat undangan dari mas Arif di lokasi Muscab. Ini kan lucu—jangan salah-salah bermain mafia,” ungkap Husen selaku Ketua DPAC Bolo.
Lebih ironis lagi, kata Husen, ketua DPC (Hairil,red) melaporkan ke tingkat DPD Provinsi bahwa dirinya telah meninggal dunia. Dengan cara inipun sehingga diterbitkan SK DPAC Bolo yang ketiga. “Bagus benar cara Hairil melaporkan saya sudah meninggal (almarhum),” ucapnya.
Kebohongan inipun diketahui pihak DPD setelah mereka turun memverifikasi kembali kepengurusan DPAC Bolo. Bahkan saat itu mereka kaget menemui dirinya setelah selesai diverifikasi oleh pihak tingkat pemerintah kecamatan Bolo pada Maret 2011.
Husen menjelaskan, awal dirinya ditunjuk dan diberikan SK untuk menjadi Ketua DPAC Bolo awal Pemilu legislative 2009 silam, menyusul ketua DPAC Bolo yang lama di desa Rato telah meninggal dunia. “Jadi yang meninggal itu bukan saya,” tandasnya.
Husen menambahkan, munculnya SK ketiga setelah dirinya itu karena ketua DPC dinilai takut dikroscek terkait dugaan penggunaan dana partai selama dikendalikannya. “Jadi, protes di arena Muscab itu untuk menghindari konflik internal partai. Inilah yang kita jaga,” terangnya.
Senada disampaikan sembilan ketua pimpinan anak cabang lainnya—diantaranya DPAC Donggo, Sanggar, Tambora, Ambalawi, Madapangga, Palibelo dan Belo.
Seperti diungkapkan Ketua DPAC Tambora Fahruddin. Dia pun kaget bahwa di kecamatan Tambora tiba-tiba muncul dua SK DPAC setelah dirinya. Padahal yang diverifikasi oleh tingkat kecamatan pada Maret 2011 silam adalah dirinya sebagai ketua kepengurusan DPAC, bukan dua SK yang muncul tiba-tiba itu. “Ketua DPC harus bertanggung jawab persoalan ini,” tandasnya.
Lebih ironis dalam permainan ini, kata Fahruddin, sembilan DPAC yang sudah diverifikasi ini tidak diberi undangan kegiatan Muscab. Sedangkan 9 DPAC lain yang sekaligus mendukung istrinya (Sakura,red), mendapatkan undangan Muscab. “Ini pola kotor yang akhirnya terbongkar juga,” tandasnya.
Begitu pula Ketua DPAC Madapanggan Abakar S.Pd juga kaget tiba-tiba munculnya dua SK DPAC, dua SK diterbitkan oleh Hairil, satu lainnya diterbitkan oleh Sulaiman Hamzah. “Jadi ketua DPAC di Madapangga ada tiga orang. Lucu benar yang dilakukan Hairil ini,” ungkapnya.
Menurut sembilan DPAC yang sama-sama memberikan keterangan pers, dugaan kuat Ketua DPC tidak hadir di arena Muscab, disamping persoalan ‘penggandaan’ SK—juga tidak berani menyampaikan LPJ terkait penggunaan dana partai selama menjabat sebagai ketua DPC.
Hingga berita ini diturunkan, Ketua DPC Partai Demokrat kabupaten Bima Hairil belum dapat dihubungi.
Sementara itu, Ketua OKK sekaligus penanggung jawab pelaksanaan Muscab II Partai Demokrat kabupaten Bima, Ahmad Yani yang dikonfirmasi via HP-nya, Senin (5/3/2012), tak bisa dihubungi pula.(yadin)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: