you're reading...
Headline

Kantor UPT Pertanian Woha Disegel


Pupuk Bersubsidi Dijual Mahal—

Delapan ton lebih pupuk Urea bersubsidi berserakah di sekitar cabang Donggobolo, kecamatan Woha-Bima-NTB. Ratusan warga dari beberapa desa di wilayah itu terpaksa menahan truk pengangkut pupuk yang diperuntukkan petani Dompu.

Bima,MN—Puluhan mahasiswa yang mengatasnama Gerakan Rakyat Peduli Tani (GRPT) menyegel Kantor UPT Dinas Pertanian Kecamatan Woha, Rabu lalu. Penyegelan terjadi berawal dari kekesalan petani terhadap sikap Kepala UPT Pertanian Woha Ahmad E.Md, yang dinilai enggan menemui pendemo untuk memberikan solusi atas terus melonjaknya harga pupuk Urea yang berlabel subsidi itu.
Koordinator aksi, Rese mengatakan penyegelan kantor itu merupakan bentuk kekecewaan terhadap sikap Kepala UPT Pertanian yang dinilai tidak pro aktif dalam mengawasi harga penjualan pupuk bersubsidi di lapangan. Apalagi beberapa pekan terakhir ini, pupuk jenis Urea itu langka sehingga meresahkan masyarakat petani di Woha.
Terjadinya kelangkaan pupuk juga memicu naiknya harga jual di tingkat petani. “Ini terjadi karena lemahnya pengawasan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan kabupaten Bima,” tuding mereka dalam aksinya.
Mereka juga mengklaim Pemerintah Daerah sebagai pelayan dan pelindung masyarakat dinilai hanya simbolitas dan tidak mampu menyikapi munculnya kenaikan harga pupuk bersubsidi di tingkat petani. “Hal ini pula lemah dan kurangnya kepedulian aparat penegak hukum didalam menangani serta menyikapi persoalan yang kerap muncul di lapangan,” tandas Korlap GRPT, Rese di lokasi aksi.
Mereka juga membeberkan harga penjualan pupuk berdasarkan aturan main. Menurut Korlap, jika mengacu UU No.06/Permentan/sr.130/2/2011 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET), pupuk bersubsidi untuk sector pertanian tahun anggaran 2012—seperti Urea dijual eceran Rp1.800 per kilo, atau satu zak netto 50 kg dijual Rp90 ribu—Pupuk NPk harga eceran Rp2.300 per kilo, atau satu zak netto 50kg dijual Rp115 ribu—Pupuk Za harga eceran Rp1.400 per kilo, atau satu zak netto 50kg dijual Rp70.000—Pupuk SP 36 harga eceran Rp2.000 per kilo, atau satu zak netto 50kg dijual Rp100 ribu—Pupuk Organic harga eceran Rp500 per kilo, atau satu zak netto 50kg dijual Rp20 ribu.
Akan tetapi, kata Korlap, kenyataan di lapangan justru oknum pengecer menjual pupuk dengan harga tinggi, dan tidak sesuai HET yang ditetapkan Pemerintah Pusat.
Menyikapi tudingan itu, Kepala UPT Pertanian Woha Ahmad A.Md mengaku tidak pernah menemukan para pengecer pupuk yang menjual di atas harga HET. Namun, tantang Ahmad, jika ditemukan adanya praktek nakal seperti itu yang disertai bukti, maka kita sama-sama bawah persoaan ini ke ranah hukum. “Saya akan laporkan ke polisi kalau ada bukti jual di atas HET,” kata Ahmad.
Sementara terkait adanya kelangkaan pupuk, kata Ahmad, sesungguhnya di Woha ini tidak ada istilah kekurangan pupuk, karena jatah pupuk tersebut sudah melebihi dari kebutuhan (RDKK). Namun, tepisnya, karena banyaknya pembeli yang berasal di luar kecamatan Woha, sehingga masyarakat Woha sendiri tidak kebagian kebutuhan tersebut.
“Jadi saya membantah atas tudingan terkair adanya konspirasi para pengecer pupuk,” ujar Ahmad.(erik)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: