you're reading...
Headline

GEMRAT Tolak Pertambangan di Bima


Gerakan Mahasiswa dan Masyarakat Anti Tambang (GEMRAT), Kamis (15/12/2011), berunjuk rasa di depan kantor Pemerintah Daerah kabupaten Bima, Provinsi NTB. Mereka menolak rencana operasi pertambangan di desa Sai kecamatan Soromandi, yang dinilai keberadaan pertambangan tidak bisa memberikan kesejahteraan masyarakat kabupaten Bima umumnya.

Bima (Media Nusantara)—Puluhan mahasiswa melalui Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Anti Tambang (GEMRAT) kecamatan Soromandi, kabupaten Bima-NTB, Kamis (15/12) pagi tadi, berunjuk rasa menolak rencana operasi pertambangan di wilayah mereka.
Unjuk rasa itu berlangsung di depan kantor Pemerintah Daerah kabupaten Bima. Sebelumnya, mereka berorasi di gedung DPRD setempat, namun aspirasi mereka belum ada tanggapan dari lembaga tersebut.
Di depan kantor Pemda kabupaten Bima—koordinator demo Sahbudin dalam orasinya, menuntut pemerintah kabupaten Bima agar pertambangan yang rencana beroperasi di desa Sai, kecematan Soromandi segera dihentikan. Karena menurut mereka, adanya pertambagan tersebut tidak dapat memberikan kesejahteran bagi masyarakat kabupaten Bima umumnya. “Justru sebaliknya hanya untuk kepentingan sekelompok pejabat tertentu,” kata Sahbudin.
Kenyataannya, bahwa globalisasi merupakan imperialise baru terhadap Negara berkembang. Hal ini ditandai kehadiran Word Trade Organitation (WTO) atau perdagangan dunia yang berkiblat pada peradaban Amerika Serikat. “Artinya, globalisasi menjadi sesuatu yang sangat menakutkan dan menghantui hati rakyat dunia yaitu kaum miskin,” tandas Sahbudin dalam orasinya itu.
Dikatakan pula, perkembangan sistim kapilisasi ekonomi social, politik dan budaya, semakin merajalela hususnya di kabupaten Bima. “Jadi, jangan menggunakan pertambangan sebagai anggaran modal untuk menutupi kasus Pilkada kabupaten Bima,” duga Sahbudin.
Di sisi lain, lanjutnya—upaya pemerintah daerah menghadirkan pertambangan semestinya untuk mensejahterakan masyarakat—namun istilah ‘mensejahterakan’ rakyat tersebut hanyalah janji bohong, lebih ironisnyapun adalah menipu rakyat. Sebab, lanjut dia, dimana upaya dimaksud tidak seperti yang diharapkan masyarakat. “Jadi kami menilai pengakuan dosa dari pertambangan adalah untuk ‘membantai’ rakyat secara perlahan-lahan,” tudingya.(kamal)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: