you're reading...
Headline

Guru, Pendidik Sekaligus Sasaran Emosi


Pergeseran nilai etika dan moral kini makin merambah profesi pendidik. Sebelumnya, guru merupakan ikon dari nilai moral dan panutan. Namun dalam perkembangannya, guru kadang dijadikan tong sampah atas ketidakpuasan oknum-oknum tertentu yang cenderung meremehkan integritas guru sebagai pendidik dan jembatan ilmu.
Masih segar dalam ingatan kita kejadian di Kota Bima beberapa waktu lalu—bagaimana seorang guru dijadikan sasaran bogem dari oknum orang tua siswa, membuahkan konflik berkepanjangan hingga menyentuh ranah hukum. Sementara di wilayah lain—baru-baru ini—seorang guru dikeroyok oleh empat siswanya sendiri lantaran menjewer kuping salah satu dari mereka.
Di jaman ini, dalam menghadapi anak didik, guru tidak beda dengan memakan buah simalakama. Jika siswa dikerasi, maka fatal akibatnya. Bila diacuhkan, siswa malah makin ngelunjak. Belum lagi jika orang tua murid berlagak sok jago, maka tindakan kekerasan terhadap guru bukan lagi hal yang dianggap tabu.
Disini, perlu kehati-hatian serta kebijaksanaan yang lebih dalam menyikapi perubahan sikap dan prilaku setiap anak didik. Pendekatan secara hart to hart terhadap siswa, agaknya menjadi satu solusi penting dalam menjaga nilai sakralitas dan integritas seorang guru.
Selain itu, ada aspek lain yang juga tidak boleh dikesampingkan oleh insan guru, yakni undang-undang perlindungan anak. Dalam kondisi apapun dan dengan alasan apapun, secara moral, anak wajib dilindungi serta dijaga hak-haknya. Tindakan yang berbau kesewenangan terhadap mereka, sama halnya menggali lubang untuk diri sendiri.
Sedangkan kasus yang sudah terlanjur ada, aparat hukum diharapkan mampu menyikapi masalah kekerasan dalam dunia pendidikan ini secara arif dan bijaksana, serta memenuhi rasa keadil;an bagi semua pihak.
Seorang guru, hingga jaman berakhir nanti, tetap merupakan pendidik dan insan terbaik dalam mencetak generasi berilmu dan bermoral. Sedangkan anak didik merupakan pewaris ilmu dan titisan moral yang diharapkan mampu tampil sebagai khalifah keluarga, bangsa dan agamanya.(One)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: