you're reading...
Headline

Aroma Korupsi Kegiatan KF di Bima


Bima (NTB).—Kegiatan program Keaksaraan Fungsional (KF) di kabupaten Bima beraroma korupsi. Pasalnya, nama-nama Warga Belajar (WB) pada kelompok binaan dari beberapa PKBM diduga dimanipulasi. Bahkan dalam penerapan belajar pun tidak sesuai modul yang disediakan sebelumnya.
KF merupakan program Pemerintah Provinsi NTB untuk mencerdaskan masyarakat bebas dari buta huruf, baca, menulis maupun angka. Bahkan dalam memuluskan program ini, pemerintah menggandeng dengan organisasi masyarakat sebagai pihak pelaksana di desa.
PKBM adalah salah satu organisasi masyarakat yang melaksanakan program KF. Bahkan tiap tahunnya mereka melaksanakan berbagai program pemerintah hingga mendapatkan kucuran dana. Adapun besar biaya selama kegiatan masing-masing Rp5 juta per kelompok.
Salah satu kegiatan di kecamatan Bolo kabupaten Bima. Awal September 2011 lalu—program KF ini mulai dicanangkan, dan dihadiri pula beberapa muspika setempat. Tak heran, saat pencanangan awal kegiatan itu, hanya dihadiri oleh 9 orang warga belajar (WB) dari 15 PKBM—161 kelompok yang ada.
Ada beberapa PKBM yang dinilai rancung kegiatannya di lapangan. Bahkan di indikasi kuat terjadi penyimpangan dengan modus operandi memanipulasi kegiatan dan data Warga Belajar (WB), termasuk nama dan jumlah tutor. Padahal dalam petunjuk pelaksanaannya, untuk satu kelompok diikuti 20 orang WB plus dua pengajar.
Program yang diberinama ‘Inova32’ ini, dilaksanakan selama 32 hari berjalan. Warga Wajib Belajar diberi insentif 3.000 per hari, disamping perlengkapan alat tulis yang diadakan pihak di dinas Dikpora kabupaten. Begitupun dua orang tutor masing-masing mendapat Rp500 ribu hingga kegiatan selesai.
Sementara untuk Tim monitoring diinsentif Rp45 ribu per jumlah kelompok WB. Mereka ini berasal dari unsur kepala desa, Camat, Kapolsek, UPT, Dikpora kabupaten dan provinsi.
PKBM ini dipercaya sebagai pelaksana program KF di lapangan. Organisasi masyarakat tersebut masing-masing memiliki kelompok binaan warga belajar yang jumlahnya berfantastik. Bahkan dua PKBM sekaligus ditangani satu orang ketua, dengan menaungi 32 kelompok WB.
Berdasarkan data UPT Dikpora kecamatan Bolo—PKBM Matrix menaugi 10 kelompok warga belajar di desa Leu. PKBM Sabua Ade 3 kelompok di Sondosia, Tunas Harapan 8 kelompok di Rato, Wahyu 7 di Rasabou—10 kelompok di Timu, Dian Lestar 3 di Rasabou, Dian Lestari 17 kelompok di Tambe—12 di desa Leu.
PKBM Romantika memiliki 17 kelompok binaan di desa Bontokape, Satria Perdana 18 kelompok di Sanolo, Pelita Bangsa 3 di Tumpu—4 di Nggembe. PKBM Mekar Timu sebanyak 7 kelompok di Timu, Cempaka Timu 20 di Tumpu, Fatimah Agan 5 di Rasabou, Cakrawala 6 di Nggembe, dan PKBM Sejahtera 11 kelompok di Nggembe.
“Dari 15 PKBM ini, beberapa diantaranya diduga tidak sepenuhnya melaksanakan program belajar. Bahkan di desa binaan mereka, diindikasi kuat terjadi memanipulasi data warga belajar dengan modus bekerjasama dengan oknum tertentu sehingga kegiatan pun dianggap ada,” tandas Safruddin salah satu pemerhati pendidikan di Rasabou, Selasa (27/9).
Semestinya, kata dia, melalui program KF yang diistilah Inova32 itu, harus dimanfaatkan dengan baik agar masyarakat kita kedepan bebas dari buta huruf dan angka. Bahkan setelah KF ini nanti, akan dilanjutkan program Kelompok Usaha Mandiri (KUM).
Safruddin mengharapkan Pemerintah Provinsi NTB agar persoalan ini menjadi bahan evaluasi sehingga program menuju masyarakat NTB bebas buta aksara berjalan sesuai harapan, bukan dengan laporan angka. “Termasuk mengevaluasi kembali PKBM mana yang dapat dipercaya untuk melanjutkan program yang berkaitan dengan itu semua,” harapnya sembari meminta kepada PKBM agar program KF ini tidak dijadikan proyek.
Sementara sehari sebelumnya, Tim pengawas dari Provinsi NTB telah meninjau langsung kegiatan KF di lapangan. Salah satu yang dikunjungi adalah PKBM Satria Perdana di desa Sanolo kecamatan Bolo.
Kedatangan mereka, selain mengawasi kegiatan warga belajar, juga memeriksa kelengkapan administrasi kepengurusan PKBM, termasuk keberadaan papan sekretariat yang layak.
Sebelumnya, Ketua PKBM Satria Perdana Isnaini dikonfirmasi Via HP terkait kegiatan, nama tutor dan warga belajar—mengakui tidak mengetahui jelas nama dan keberadaan rumah mereka. Sebaliknya, dia mengarahkan agar menanya langsung kepada tutor dan kepala desa. “Saya tidak tahu nama-nama warga belajar, termasuk nama lengkap dan alamat rumah tutor. Silakan tanyakan langsung ke sana,” ujarnya dengan suara tersendak-sendak sambil menyebut beberapa nama samaran tutor.(Adi Pradana)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: