you're reading...
Teroris

Mengenali Abrori dari Guru dan Temannya


Pimpinan Ponpes Umar Bin Khottab - Bima, Ustad Abrori Al Ayubi

Ustad Abrori Al Ayubi bin Aly adalah anak keempat dari tujuh saudara dari pasangan Aly Ghani-Imo. Dia dilahirkan di desa Kananga kecamatan Bolo kabupaten Bima, 25 November 1975. Penilaian khusus kedua orangtuanya, Abrori memiliki kelebihi dari saudara-saudaranya.
Nama yang disandangnya—AL Ayubi—adalah tambahan nama yang diambil dari nama seorang pejuang agama Islam di Timur Tengah, setelah pimpinan Ponpes Al Mutaqim menyetujui permintaan Abrori sendiri.
Awal menekuni ilmu pendidikan dasar, Abrori disekolahkan di SDN Sila 5. Selama 6 tahun berjalan, dimata guru dan teman-temannya, Abrori dikenal ramah dan tidak nakal. Bahkan kondisinya masa itu, terlihat loyo, lemas dan agak kurus. Begitupun dimata guru terutama wali kelasnya, menilai Abrori anak yang sederhana dan tidak minder. “Masa itu, dia terkesan rapi. Ma’lum dia juga anak seorang guru,” ujar salah satu guru pembimbingnya di masa itu dan meminta namanya tidak dikorankan.
Selama 6 tahun di SDN Sila 5, Abrori selalu mendapat prestasi juara. Namun tak terlintas dalam benaknya kalau Abrori sekarang ini bisa terkenal. “Saya mendengar dan melihat nama Abrori disebut-sebut lewat media cetak maupun elektronik. Hari itu saya sedang sakit,” ujarnya lagi.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Sila 5 tahun 1986/1987—Abrori melanjutkan ke sekolah menegah pertama di SMPN 1 Bolo, yang sekarang ini menjadi salah satu Sekolah Setara Nasional (SSN) di kabupaten Bima.
Semasa di SMP—Abrori juga dikenal super dan mudah bergaul dengan teman-temannya di sekolah. Di kelas 1-I hingga 3-1, Abrori dipercaya oleh teman-temannya sebagai ketua kelas. Tingkahlakuhnya pun didalam maupun diluar kelas, Abrori dinilai salah satu siswa yang taat aturan sekolah. “Semasa itu, dia (Abrori) tidak nakal. Begitupun dalam berpakaian sekolah selalu dalam keadaan rapi,” ujar Sarafiah S.Pd mantan wali kelas 1 Abrori dimasa itu.
Begitu pula pada saat jam belajar, Abrori selalu koperatif menerima pelajaran yang disampaikan guru. “Bahkan ketika saya memberi satu pertanyaan soal saat mengajar, dia selalu lebih awal tampil untuk memberikan jawaban. Sehingga tak heran selama tiga tahun di sekolah itu, dia terus mendapat prestasi juara II,” kisah Sarafiah berakhir.
“Dia juga anak yang baik, ramah dalam bergaul. Dan di kelas, dia salah satu siswa yang selalu mendapat prestasi juara,” tambah Ko’o salah satu teman sekelas Abrori dimasa itu.
Setelah menyelesaikan sekolah di SMPN 1 Bolo tahun 1989/1990—Abrori melanjut di SMAN 3 Mataram hingga selesai (tamat belajar) tahun ajaran 1992/1993.
Setelah tiga tahun di SMA 3 Mataram, Abrori melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al Mutaqim, Jepara – Jawa Tengah. Di pesantren itu, Abrori menghabiskan waktu selama 6 tahun, untuk menekuni pendidikan agama Islam.
Kemudian bulan November tahun 1999—Abrori akhirnya menikah dengan Siti Asanah, putri H A Rasul pengusaha oto (PO) Putra Sayang di desa Bontokape kecamatan Bolo-Bima. Dari bua perkawinannya itu, mereka dikarunia 5 orang anak. Hingga beberapa tahun lamanya berumahtangga, istri Abrori pun meninggal dunia.
Sekitar tahun 2001—Abrori pun menyempatkan diri ikut sebagai pasukan relawan mujahid di daerah Ambon, yang merupakan tempat konflik sarah. Namun di Ambon Abrori tidak diijinkan turun ke lokasi, melainkan dia dipercayakan sebagai guru pembina ummat bagi para relawan di lokasi peristiwa itu. Sehingga 6 bulan lamanya Abrori menjadi guru pembina ummat di Ambon. Dan semasa itupun Abrori belum masuk dalam organisasi manapun. “Sehingga dia tidak disempatkan ke Poso,” ujar Aly Ghani.
Dari Ambon menjelang akhir tahun 2001—Abrori kembali ke kampung kelahirannya. Hingga tahun 2004, Abrori mendirikan sekaligus memimpin pondok pesantren Umar Bin Khotthab di desa Sanolo kecamatan Bolo. Awal mendirikan Ponpes itu setelah ada pihak yang mewakafkan tanah untuk tujuan dimaksud. “Tanah yang diwakafkan ini milik keluarga H Abakar (Tk Obor) di Bima,” sebut Aly Ghani.
Setelah beberapa tahun ponpes UBK beroperasi, Abrori kemudian bergabung dalam organisasi Jamaah Ansharut Tauhid atau dikenal dengan JAT. Awal terbentuknya oraganisasi JAT ini sekitar tahun 2008 oleh Ustad H Abubakar Ba’syir. JAT ini dibentuk menyusul terpecah organisasi Mujahidin, dan Abubakar Ba’syir keluar membentuk JAT.
Dalam organisasi itu, Abrori aktif hanya dua bulan—kemudian keluar setelah Abrori mengetahui pengurus JAT disibukkan mencari dana. “Adanya hal demikian, jadi Abrori keluar karena tidak sepaham dengan orang-orang dalam organisasi tersebut, sehingga Abrori berfokus membesarkan nama ponpes UBK,” tutur Aly Ghani.
Selama beberapa tahun hidup menyendiri dan membesarkan 5 orang anaknya serta mengurus Ponpes UBK—tahun 2010 Abrori pun menikah dengan Khairur Rahmania, perempuan kelahiran Karangasem, Jawa Tengah. Bersama istrinya itu, Abrori dikarunia seorang anak hingga menyusul kasus yang dihadapinya saat ini.
Kini Abrori dalam menjalani proses hukum di Mapolda NTB. Senin (25/7/2011) kemarin, dikabarkan kuasa hukum dari tim pembela Islam di Jakarta telah tiba di Mataram untuk membela Abrori dalam menghadapi proses hukum.(Adi Pradana)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: