you're reading...
Headline

Abrori Al Ayubi Dijemput Kapolda NTB Atas Kesepakatan


Pasca terjadinya ledakan bom serta penyisiran di pondok Umar Bin Khattab di desa Sanolo kecamatan Bolo kabupaten Bima – NTB oleg tim Densus 88, polisi disibukkan pula mencari pimpinan pondok UBK bernama Ustad Abrori. Bahkan berbagai informasi yang beredar beberapa hari kemudian, Abrori telah ditangkap polisi dan langsung dibawa ke Mapolda NTB dengan menggunakan helikopter milik polisi. Namun informasi kronologi penangkapan pimpinan pondok UBK tersebut, diluruskan oleh orangtua Abrori sendiri, yakni Aly Ghani Al Wahyubi.
Berikut kronologi penjemputan Abrori dari hasil wawancara dengan Aliy Ghani Al Wahyubi.
Kamis (21/7/2011) sore, kami mendatangi kediaman orangtua Abrori, bapak Aly Ghani Al Wahyubi, di desa Kananga kecamatan Bolo, kabupaten Bima-NTB. Lokasi rumah inipun tak jauh dari keramaian pasar sore di cabang Donggo—jalan lintas menuju kecamatan Donggo.
Sore itu, kebetulan ada keramaian, tepatnya kegiatan gerak-jalan antara pelajar SMP/SMA dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekan RI. Diperkirakan satu jam sebelumnya, kami sudah merencana untuk memanfaatkan waktu bertemu dengan bapak Aly Ghani atau biasa disapa guru elo.
Sebagai orang Islam—saat di pintu masuk rumahnya—kami menyapakan salam. Dan saat itupun pak Aly menjawab dan berwajah cerah menyambut kedatangan kami. “Silakan masuk adik-adik wartawan. Dan apa yang bisa saya bantu,” ujar Aly Ghani langsung dengan senyum ramah.
Tak lama pula, kami langsung menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan, dengan harapan bapak Aly Ghani menceritakan kronologi penjemputan Ustad Abrori. Dan tanpa mengulur waktu, Aly Ghani menceritakan awalnya Abrori dijemput oleh Kapolda NTB Brigjen Pol Arief Wachyunadi.
Mulanya terjadi komunikasi dengan salah seorang wartawan yang menjembatani dirinya dengan bapak Kapolda NTB, yang mana kala saat itu Kapolda sudah berada di Bima. Namun ada beberapa catatan yang harus disepakati antara keluarga Abrori dengan polisi (Kapolda,red), yakni Abrori akan dijemput dan tidak boleh diketahui oleh pihak luar termasuk Pers—terkecuali dirinya dan Kapolda sendiri.
Setelah ada sinyal, Aly Ghani langsung ke Bandar Udara M Salahuddin Bima untuk menjemput seorang wartawan itu. Diperkirakan pukul 10.30 WITA, terjadi pertemuan singkat diruang tunggu bandara, setelah kemudian menuju RM Purnama, 100 meter sebelah timur pantai Lawata kota Bima. Dan pada pukul 11.00, Jum’at (15/7/2011), bertemu dengan bapak Kapolda NTB.
“Di RM Purnama, ada beberapa kesepakatan saya dengan Kapolda NTB. Dan kesepakatan itu dijalankan setelah kami makan siang di RM Purnama,” kata Aly Ghani.
Setelah makan siang, dirinya satu mobil bersama Kapolda menuju lokasi penjemputan Abrori menggunakan mobil milik Hj Ferra (ketua DPRD kota Bima). Namun di desa Sanolo, rombongan kami sempat terhalang palang Jum’at Khusyu. Bahkan mobil Baraccuda yang ikut mengawal Kapolda dari belakang, sempar diberik kode untuk menjauhi keberadaan mobil yang kami tumpangi. “Tujuan ini untuk menghindari perhatian public disekitar itu,” ujar Ali Ghani.
Setelah Jum’at selesai, rombongan kami kembali jalan. Dan sekitar 50 meter sebelum perbatasan desa Timu-Leu, mobil mengambil arah melintasi jalan alternative yakni melewati SMAN 1 Bolo. Setelah diprapatan jalan lapangan Kara (GSG Bolo), mobil belok kearah selatan menuju rumah. “Dan saat menuju rumah saya mengontak anak saya (Abrori) untuk siap dijemput,” tutur Aly Ghani.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mobil yang kami gunakan bersama Kapolda langsung merapat di pintu pagar rumah, desa Kananga. Dan saat itu Abrori membuka pintu rumah, tanpa mengulur waktu langsung masuk kedalam mobil—meski sebelumnya bapak Kapolda ingin bersinggah dirumah walau hanya sebentar. “Karena ini satu tujuan adalah menjemput Abrori,” kata Aly Ghani kembali.
Setelah di pertigaan cabang Donggo-Sila, mobil tiba-tiba melaju belok ke barat kemudian diikuti beberapa mobil pengawal Kapolda. “Dalam mobil itu, saya duduk samping kanan, Abrori ditengah dan bapak Kapolda samping kiri. Jelasnya, Abrori saat bersama kami didalam mobil dengan tangan tidak diborgol,” terang Aly Ghani.
Setelah tiba di Mapolres Dompu, kami bersama bapak Kapolda disambut baik dengan jamuan makanan. Di Mapolres itu, kami sempat menyepakati untuk memeriksa Abrori. Dan hasil kesepakatanpun diperiksa secara terbuka melalui dialog antara polisi dengan Abrori.
Ada pertanyaan yang sempat hangat ketika polisi menanyakan kepada Abrori terkait kata ‘Thogut”. Menurut Aly Ghani, ‘Thogut’ artiannya adalah ‘pimpinan setan’ atau orang-orang yang tidak ada dalam sistem agama Islam. Pertanyaan itu diajukan oleh dua anggota polisi yang sudah menyelesaikan sekolah khusus di Mesir.
Diperkirakan pukul 23.00 Wita, kami bersama bapak Kapolda makan malam di RM Rinjani Dompu setelah dialog panjang berlangsung. Di RM itu Abrori terlihat seperti orang biasa saja, tanpa tangan diborgol. Dan setelah santap malam, Abrori siap diberangkatkan menuju kabupaten Sumbawa menggunakan mobil milik ketua DPRD kota Bima. Namun sebelumnya bapak Kapolda sempat menawarkan kepada dirinya ikut mengatar Abrori sampai ke Mataram (Mapolda NTB). Tapi malam itu dirinya menolak karena sudah membantu memudahkan tugas kepolisian menjemput Abrori. “Memang saya pada malam itu tidak lagi ikut mengantar anak saya. Tapi saya hanya menitip harapan kepada bapak Kapolda untuk tidak menyentuh sedikitpun Abrori selama proses hukum berjalan. Dan semuanya saya serahkan kepada YME,” kata Aly Ghani. “Dan bapak Kapolda malam itu juga berjanji memegang apa yang menjadi harapan saya sebagai orangtua Abrori,” lanjutnya.
Dalam perjalan, rombongan Kapolda tiba di Mapolres Sumbawa diperkirakan pukul 05.00 Wita, Sabtu (16/7/2011) dini hari. Dan beberapa jam kemudian, Kapolda bersama Abrori didampingi seorang wartawan menggunakan helicopter polisi berangkat dari Sumbawa besar ke Mapolda NTB, Mataram. Di Mataram Kapolda bersama Abrori diperkirakan tiba pada pukul 08.00 Wita. “Selama diperjalanan hingga tiba di Mapolda NTB, saya selalu terkomunikasi,” kisah Aly Ghani sekilas perjalanan penjemputan Abrori.
Abrori Aly Ghani adalah anak ke 4 dari 7 saudara. Dia dilahirkan di desa Kanangan kecamatan Bolo kabupaten Bima pada tanggal 25 November 1975. Pendidikan dasar selama 6 tahun di SDN Sila 5—kemudian pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Bolo—dan sekolah lanjutan atas di SMA 3 Mataram. Setelah tamatan tahun 1992/1993, Abrori menuntun ilmu agama di Pondok Pesantren Al Mutaqim, Jepara. Di pesantren itu, Abrori menghabiskan waktu selama 6 tahun. Dan pada tahun 2004, Abrori menjadi pimpinan pondok pesantren Umar Bin Khattab di desa Sanolo kecamatan Bolo.(Adi Pradana)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ARSIP

%d blogger menyukai ini: